Jumat, 28 Mei 2010

Mengenali gejala Autisme

  • Autisme adalah gangguan perkembangan yang sangat kompleks pada anak-anak, bisa berupa gangguan bicara dan bahasa, interaksi sosial, dan perilaku. Gejalanya tampak sebelum sikecil berusia 3 tahun/
  • Tidak memiliki rasa tertarik kepada anak-anak lain.
  • Tidak pernah menggunakan telunjuk untuk menunjuk rasa tertariknya pada sesuatu.
  • Tidak pernah menatap mata Anda lebih dari 1-2 detik.
  • Dia tak pernah meniru Anda yang sedang membuat raut wajah tertentu.
  • Tidak memberikan reaksi bila namanya dipanggil.
  • Bila anda menunjuk pada sebuah mainandisisi lain ruangan, dia tidak pernah melihat pada mainan tersebut.
  • Tidak pernah bermain sandiwara boneka, entah itu pura-pura menyuapi boneka atau bicara ditelepon, dll
sumber : http://www.indoforum.org/showthread.php?t=16271

definisi Autisme

Autisme adalah suatu kondisi mengenai seseorang sejak lahir ataupun saat masa balita, yang membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi yang normal. Akibatnya anak tersebut terisolasi dari manusia lain dan masuk dalam dunia repetitive, aktivitas dan minat yang obsesif. (Baron-Cohen, 1993). Menurut Power (1989) karakteristik anak dengan autisme adalah adanya 6 gangguan dalam bidang:

Gejala ini mulai tampak sejak lahir atau saat masih kecil; biasanya sebelum anak berusia 3 tahun.

Autisme dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder R-IV merupakan salah satu dari lima jenis gangguan dibawah payung PDD (Perpasive Development Disorder) di luar ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) dan ADD (Attention Deficit Disorder). Gangguan perkembangan perpasiv (PDD) adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan beberapa kelompok gangguan perkembangan di bawah (umbrella term) PDD, yaitu:

  1. Autistic Disorder (Autism) Muncul sebelum usia 3 tahun dan ditunjukkan adanya hambatan dalam interaksi sosial, komunikasi dan kemampuan bermain secara imaginatif serta adanya perilaku stereotip pada minat dan aktivitas.
  2. Asperger’s Syndrome Hambatan perkembangan interaksi sosial dan adanya minat dan aktivitas yang terbatas, secara umum tidak menunjukkan keterlambatan bahasa dan bicara, serta memiliki tingkat intelegensia rata-rata hingga di atas rata-rata.
  3. Pervasive Developmental Disorder – Not Otherwise Specified (PDD-NOS) Merujuk pada istilah atypical autism, diagnosa PDD-NOS berlaku bila seorang anak tidak menunjukkan keseluruhan kriteria pada diagnosa tertentu (Autisme, Asperger atau Rett Syndrome).
  4. Rett’s Syndrome Lebih sering terjadi pada anak perempuan dan jarang terjadi pada anak laki-laki. Sempat mengalami perkembangan yang normal kemudian terjadi kemunduran/kehilangan kemampuan yang dimilikinya; kehilangan kemampuan fungsional tangan yang digantikan dengan gerakkan-gerakkan tangan yang berulang-ulang pada rentang usia 1 – 4 tahun.
  5. Childhood Disintegrative Disorder (CDD) Menunjukkan perkembangan yang normal selama 2 tahun pertama usia perkembangan kemudian tiba-tiba kehilangan kemampuan-kemampuan yang telah dicapai sebelumnya.

Diagnosa Perpasive Develompmental Disorder Not Otherwise Specified (PDD – NOS) umumnya digunakan atau dipakai di Amerika Serikat untuk menjelaskan adanya beberapa karakteristik autisme pada seseorang (Howlin, 1998: 79). National Information Center for Children and Youth with Disabilities (NICHCY) di Amerika Serikat menyatakan bahwa Autisme dan PDD – NOS adalah gangguan perkembangan yang cenderung memiliki karakteristik serupa dan gejalanya muncul sebelum usia 3 tahun. Keduanya merupakan gangguan yang bersifat neurologis yang mempengaruhi kemampuan berkomunikasi, pemahaman bahasa, bermain dan kemampuan berhubungan dengan orang lain. Ketidakmampuan beradaptasi pada perubahan dan adanya respon-respon yang tidak wajar terhadap pengalaman sensoris seringkali juga dihubungkan pada gejala autisme.

sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Autisme

penyebab Autisme

Jumlah anak yang terkena autisme makin bertambah. Di Canada dan Jepang pertambahan ini mencapai 40 persen sejak 1980. Di California sendiri pada tahun 2002 di-simpulkan terdapat 9 kasus autis per-harinya. Dengan adanya metode diagnosis yang kian berkembang hampir dipastikan jumlah anak yang ditemukan terkena Autisme akan semakin besar. Jumlah tersebut diatas sangat mengkhawatirkan mengingat sampai saat ini penyebab autisme masih misterius dan menjadi bahan perdebatan diantara para ahli dan dokter di dunia.

Sebagai contoh, perdebatan yang terjadi akhir akhir ini berkisar pada kemunkinan penyebab autisme yang disebabkan oleh vaksinasi anak. Peneliti dari Inggris Andrew Wakefield, Bernard Rimland dari Amerika mengadakan penelitian mengenai hubungan antara vaksinasi terutama MMR (measles, mumps rubella ) dan autisme. Penelitian lainnya membantah hasil penyelidikan tersebut tetapi beberapa orang tua anak penyandang autisme tidak puas dengan bantahan tersebut. Jeane Smith (USA) bersaksi didepan kongres Amerika : kelainan autis dinegeri ini sudah menjadi epidemi - saya dan banyak orang tua anak penderta autisme percaya bahwa anak mereka yang terkena autisme disebabkan oleh reaksi dari vaksinasi.

Banyak pula ahli melakukan penelitian dan menyatakan bahwa bibit autisme telah ada jauh hari sebelum bayi dilahirkan bahkan sebelum vaksinasi dilakukan. Kelainan ini dikonfirmasikan dalam hasil pengamatan beberapa keluarga melalui gen autisme. Patricia Rodier, ahli embrio dari Amerika bahwa korelasi antara autisme dan cacat lahir yang disebabkan oleh thalidomide menyimpulkan bahwa kerusakan jaringan otak dapat terjadi paling awal 20 hari pada saat pembentukan janin. Peneliti lainnya, Minshew menemukan bahwa pada anak yang terkena autisme bagian otak yang mengendalikan pusat memory dan emosi menjadi lebih kecil dari pada anak normal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa gangguan perkembangan otak telah terjadi pada semester ketiga saat kehamilan atau pada saat kelahiran bayi.

Karin Nelson, ahli neorology Amerika mengadakan menyelidiki terhadap protein otak dari contoh darah bayi yang baru lahir. Empat sampel protein dari bayi normal mempunyai kadar protein yang kecil tetapi empat sampel berikutnya mempunyai kadar protein tinggi yang kemudian ditemukan bahwa bayi dengan kadar protein otak tinggi ini berkembang menjadi autisme dan keterbelakangan mental. Nelson menyimpulkan autisme terjadi sebelum kelahiran bayi.

Saat ini, para peneliti dan orang tua anak penyandang autisme boleh merasa lega mengingat perhatian dari negara besar di dunia mengenai kelainan autisme menjadi sangat serius. Sebelumnya, kelainan autisme hanya dianggap sebagai akibat dari perlakuan orang tua yang otoriter terhadap anaknya. Disamping itu, kemajuan teknologi memungkinkan untuk melakukan penelitian mengenai penyebab autisme secara genetik dan metabolik. Pada bulan Mei 2000 para peneliti di Amerika menemukan adanya tumpukan protein didalam otak bayi yang baru lahir yang kemudian bayi tersebut berkembang menjadi anak autisme. Temuan ini mungkin dapat menjadi kunci dalam menemukan penyebab utama autisme sehingga dapat dilakukan tindakan pencegahannya.

sumber : http://puterakembara.org/sebab.shtml

Patogenesis

Beberapa penelitian belum dapat menyimpulkan penyebab pasti dari ADHD. Seperti halnya dengan gangguan perkembangan lainnya (autisme).

1. Faktor lingkungan/psikososial

a. Konflik keluarga.

b. Sosial ekonomi keluarga yang tidak memadai.

c. Jumlah keluarga yang terlalu besar.

d. Orang tua terkena kasus kriminal.

e. Orang tua dengan gangguan jiwa (psikopat).

f. Anak yang diasuh di penitipan anak.

g. Riwayat kehamilan dengan eklampsia, perdarahan antepartum, fetal distress, bayi lahir dengan berat badan lahir rendah, ibu merokok saat hamil, dan alkohol.

2. Faktor genetik

Terdapat mutasi gen pengkode neurotransmiter dan reseptor dopamin(D2 dan D4) pada kromosom 11p.

3. Gangguan otak dan metabolisme

a. Trauma lahir atau hipoksia yang berdampak injury pada lobus frontalis di otak.

b. Pengurangan volume serebrum.

c. Gangguan fungsi astrosit dalam pembentukan dan penyediaan laktat serta gangguan fungsi oligodendrosit.


Beberapa teori yang sering dikemukakan adalah hubungan antara neurotransmitter dopamine dan epinephrine. Teori faktor genetik, beberapa penelitian dilakukan bahwa pada keluarga penderita, selalu disertai dengan penyakit yang sama setidaknya satu orang dalam keluarga dekat. Orang tua dan saudara penderita ADHD memiliki resiko hingga 2- 8 x terdapat gangguan ADHD. Teori lain menyebutkan adanya gangguan disfungsi sirkuit neuron di otak yang dipengaruhi oleh berbagai gangguan neurotransmitter sebagai pengatur gerakan dan control aktifitas

Faktor resiko yang meningkatkan terjadinya ADHD

- Kurangnya Deteksi dini

- Gangguan pada masa kehamilan(infeksi, genetic, keracunan obat dan alkohol, rokok, dan stress psikogenik)

- Gangguan pada masa persalinan(premature, postmatur, hambatan persalinan, induksi, kelainan persalinan)

sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/ADHD#-_Terapi_behaviour


PENGGUNAAN TERAPI BERMAIN SEBAGAI TEKNIK PSIKOTERAPI

1. Nilai Terapiutik dari Permainan
Bermain pada anak-anak ibarat berbicara pada orang dewasa. Jika diberikan kesempatan, maka anak akan mengeluarkan perasaan dan kebutuhan dengan ekpresi atau tindakan atau proses – takut, puas, marah, bahagia, frustasi – menyerupai orang dewasa. Mungkin anak tidak dapat mengatakan apa yang dia rasakan atau bagaimana mereka terpengaruh oleh peristiwa-peristiwa dalam hidupnya. Tapi dengan adanya orang dewasa yang peduli, sensitif, dan empati, mereka akan memperlihatkan perasaan atau peristiwa yang mempengaruhi dirinya melalui permainan (Landreth,2001). Saat anak mengeluarkan perasaannya melalui permainan, maka mereka membawa perasaan tersebut ke dalam tingkat kesadaran, sehingga akhirnya mereka akan terbuka, menerima, dan belajar mengendalikan atau menolaknya (Axline dalam Landreth, 2001). Hartup & Smothergill (dalam Landreth, 2001) menyatakan bahwa dalam bermain, anak dapat mengurangi tegangan, mengendalikan kecemasan, merespon secara wajar, atau memanifestasikannya dalam penerimaan. Saat anak mengulang kembali pengalamannya dalam bermain imajinatif, mereka dapat mengatasi masalah atau mengatasi ketakutannya, dan menyembuhkan luka hatinya (Weissbourd dalam Landreth, 2001).
Permainan untuk memfasilitasi ekspresi diri dapat berupa bentuk-bentuk berikut:
 Mainan kehidupan nyata. Boneka yang terdiri atas keluarga (ibu, bapak, anak), boneka rumah-rumahan, binatang peliharaan, atau tokoh kartun dapat menjadi media untuk mengekpresikan perasaan secara langsung. Terapis juga dapat menggunakan mainan keseharian seperti mobil-mobilan, alat masak memasak tiruan, kartu bergambar , atau kapal-kapalan untuk melihat pengalaman hidup klien.
 Mainan pelepas agresivitas-bermain peran. Klien dapat mengkomunikasikan emosi yang terpendam melalui mainan atau materi seperti karung tinju, boneka tentara, boneka dinosaurus dan hewan-hewan buas, pistol dan pisau mainan, boneka orang, dan balok kayu.
 Mainan pelepas emosi dan ekspresi kreativitas. Pasir, air, balok, atau lilin dapat menjadi sarana klien mengekspresikan emosi atau kreativitasnya.

2. Kepada Siapa Terapi Bermain Diberikan
Terapi bermain dapat dipakai baik sebagai asesmen maupun sebagai terapi. Sebagai sebuah terapi, terapi bermain dapat diberikan antara lain kepada anak yang:
 Mempunyai pengalaman diperlakukan dengan kejam & diabaikan
Perlakuan yang kejam (seperti perkosaan, serangan fisik, pukulan) dan pengabaian menyebabkan konflik diri dan masalah hubungan yang serius, dan terapi bermain memungkinkan klien mengembangkan mekanisme penyelesaian masalah dan adaptasi (Klem dan Peres dalam Landreth, 2001). Hal ini dikemukakan juga dalam tulisan Sukmaningrum (2001) yang menunjukkan efektivitas terapi bermain sebagai alternatif penanganan anak-anak yang mengalami trauma karena kekerasan massal.
 Agresif
Perilaku agresif seringkali berakar dari keinginan, harapan, atau perasaan yang tidak dapat diekspresikan. Dalam terapi bermain, klien dapat bebas bereksprimen melakukan perilaku yang lebih efektif (Levy dalam Landreth, 2001).
 Gangguan emosi dan skizofren
Terapi bermain memberikan suasana yang aman dimana anak yang emosinya terganggu dapat bermain peran mengungkapkan emosi terpendamnya dan belajar untuk mengatasi lingkungannya dengan lebih baik (Gumaer dan Landreth dalam Landreth, 2001). Penelitian Irwin (dalam Landreth, 2001) menunjukkan bahwa terapi bermain juga dapat diterapkan pada anak dengan gangguan mental seperti skizofren.
 Takut dan cemas
Terapi bermain menyediakan lingkungan yang aman dan penerimaan sehingga klien bebas mengekspresikan ketakutan dan kecemasannya, misalnya pada anak yang fobia sekolah. Saat rasa takut dan cemas terekspresikan maka selanjutnya klien akan mampu mengendalikan perasaan tersebut dan berkembang lebih sehat (Levy, Straughan, Landreth dkk, dan Milos & Reis dalam Landreth, 2001).
 Mengalami masalah Penyesuaian sosial
Penelitian Coplan, Prakash, O’Neil, dan Armer (2004) pada anak-anak usia 3-5 tahun menunjukkan bahwa terapi bermain dapat digunakan untuk melihat penarikan diri secara sosial berdasarkan kecemasan sosial dan ketidaktertarikan sosial. Penelitian Openheim (1997) menunjukkan bahwa terapi bermain dengan boneka mengurangi gangguan berpisah (separation) anak prasekolah, terutama berpisah dari ibu.
 Kesulitan bicara
Penelitian Lyytinen, Dikkens, dan Laakso (1997) menunjukkan bahwa bermain simbolik terbukti dapat meningkatkan kemampuan berbahasa anak usia dini.
 Mengalami gangguan visual spatial
Penelitian yang dilakukan oleh Caldera, Culp, O’Brien, Tonglio, Alvaren, dan Huston (1999) menunjukkan bahwa bermain dengan menggunakan permainan yang maskulin dan manipulatif, misalnya bermain bola, dapat meningkatkan kemampuan visual-spatial pada anak. Jadi anak dengan gangguan koordinasi tubuh (clumcy) dapat diterapi dengan bermain maskulin dan manipulatif.
 Anak penyandang Autism
Penyandang autism biasanya hidup dalam dunia sendiri dan “terisolasi” dari dunia sosialnya. Menurut hasil penelitian McConnell (2002) prosedur intervensi melalui permainan dengan teman sebaya dapat membantu penyandang autisme membangun kesadarannya akan dunia sekitarnya dan akan keberadaan orang lain. Kemampuan berinteraksi sosial anak autism ini juga dapat ditingkatkan melalui permainan dalam bentuk pemberian cerita sosial (social story) kepada mereka (Sugiarto, dkk., 2004).
Disamping diberikan kepada mereka sebagai bentuk terapi, ternyata sebuah penelitian yang dilakukan oleh Hartini (2004) menunjukkan bahwa bentuk permainan sosial dapat meningkatkan kecerdasan emosi pada anak-anak pra-sekolah. Hal ini ditunjukkannya dari hasil penelitian yang dilakukan terhadap anak-anak pra-sekolah di Surabaya.

3. Prosedur dalam Terapi Bermain
Fase Persiapan
Sebelum memasuki fase terapi bermain anak harus disiapkan sehingga mereka tahu apa yang akan dihadapi dan akan dilakukannya. Beberapa orang tua tidak cukup menyiapkan anak mereka, karena mereka tidak tahu apa yang harus dikatakan, atau takut anak tidak mau mengikuti terapi saat mereka memberi tahu bahwa anak akan menjalani terapi. Orang tua sebaiknya memberi tahu bahwa anak akan bertemu dengan terapis dalam ruang khusus dimana disana banyak mainan setiap minggu dan menjelaskan bahwa proses ini akan membantu anak menemukan hal yang lebih baik.

Proses Terapi Bermain
Moustakas (dalam Landreth, 2001) menggambarkan lima tahap dimana anak yang mengalami gangguan emosi berkembang menuju ekspresi diri dan kesadaran diri dalam proses terapi permainan:
1) Emosi negatif terekspresikan secara menyebar ditempat klien bermain. Misalnya ekspresi dari reaksi terhadap kekerasan tersebar pada ruang bermain, alat permainan, atau pada terapis.
2) Anak mengekspresikan emosi yang bertentangan, misalnya antara kecemasan dengan kekasaran.
3) Anak lebih fokus dalam mengekspresikan emosi negatif, misalnya pada orang tua, diri sendiri, atau orang lain dalam hidupnya.
4) Emosi dan sikap yang bertentangan, negatif dengan positif, kembali terjadi dengan fokus pada orang tua, diri anak, atau orang lain.
5) Anak mengekspresikan tilikan diri dan pemahaman atas emosi negatif ataupun positif yang ada pada dirinya dengan jelas, terbedakan, terpisah, dan realistik dengan sikap positif yang lebih dominan.

Axline (dalam Landreth, 2001) menggambarkan proses tahapan ekspresi diri klien melalui permainan sebagai berikut: pada saat sesi terapi berkembang, banyak sikap dan emosi klien yang diekspresikan secara simbolik dari permainan ke permainan, dari klien ke orang khayalan, dari klien ke orang yang sesungguhnya, dan dari anak ke objek emosinya. Pada akhir terapi, klien bertanggung jawab atas emosinya tersebut, dan mengekspresikan diri secara jujur dan terbuka melalui permainan. Klien akan menyadari emosinya, dan belajar mengontrol ataupun menghilangkan emosi tersebut. Dalam terapi ini dibutuhkan lingkungan yang menerima tanpa syarat dan aman.

Hal Penting Sesudah Terapi Bermain
Terapis harus menjelaskan pada orang tua bahwa setelah sesi terapi selesai mereka jangan bertanya pada anak tentang apa yang terjadi atau bagaimana perasaan anak selama sesi berlangsung. Ini untuk menjamin anak merasa aman, privasinya terjaga, dan dipercaya. Akan tetapi hal tersebut diperbolehkan jika anak yang lebih dulu memulai pembicaraan tentang sesi yang berlangsung. Terapis juga harus mengkomunikasikan kepada orang tua jika memberikan pekerjaan rumah seperti menggambar atau melukis.

Karakteristik Kepribadian Terapis Bermain yang Efektif
a. Secara tulus tertarik pada dunia anak dan mampu mengembangkan hubungan yang hangat dan menyenangkan
b. Penerimaan tanpa syarat terapis terhadap anak dan tidak mengharapkan adanya hal yang lain pada anak
c. Terapis menciptakan rasa aman dan kebebasan dalam hubungan dengan anak sehingga anak merasa bebas bereksplorasi dan mengekspresikan diri sepenuhnya.
d. Terapis selalu sensitif terhadap perasaan anak dan dengan hati-hati merefleksikan perasaan tersebut sehingga anak mengembangkan pengertian diri
e. Terapis percaya bahwa anak dapat bertanggung jawab dalam bertindak, menghargai, dan membiarkan anak menunjukkan kemampuannya menyelesaikan masalah pribadi.
f. Terapis percaya pengarahan diri anak, membiarkan anak memimpin di segala area hubungan dan tidak mengarahkan anak dalam bermain atau berbicara.
g. Terapis menghargai peningkatan proses terapiutik yang alami dan tidak terburu-buru.
h. Terapis membangun batasan terapiutik yang membantu anak menerima tanggung jawab dari hubungan personal yang tepat.

sumber : http://klinis.wordpress.com/2007/08/30/penerapan-terapi-bermain-bagi-penyandang-adhd-2/

Terapi Psikososial / Terapi Perilaku

Terapi psikososial / terapi perilaku sendiri, seperti pelatihan kemampuan sosial atau terapi individual, tidak terbukti sama efektifnya dengan obat dalam mengobati gejala-gejala utama ADHD. Tetapi terapi perilaku sendiri dapat dianjurkan sebagai terapi awal bila gejala ADHD cukup ringan, diagnosa ADHD belum pasti, atau keluarga memilih terapi ini.

Apakah anak anda sedang makan obat atau tidak, terapi perilaku dapat membantu pengelolaan gejala-gejala ADHD dan mengurangi dampaknya pada anak anda.
Banyak orangtua mendapatkan bahwa cara terbaik untuk menggunakan tehnik ini adalah dengan bekerja sama dengan seorang terapis yang berpengalaman dalam masalah perilaku. Banyak dokter menganjurkan kepada orangtua dan penanggungjawab untuk mengikuti kelas / seminar bagi orangtua, terutama yang terfokus pada penanganan anak dengan ADHD.

sumber : http://adhd.or.id/treatment.html

Waspadai ADHD pada Orang Dewasa

GANGGUAN pemusatan perhatian atau ADHD, bukan hanya dapat dialami oleh anak Anda. Siapa tahu Anda pun memiliki gangguan yang sama namun belum terdeteksi.

Anak Anda didiagnosa mengidap Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD). Anda pun tampak seakan menyimak penjelas dokter tentang gejala ADHD, masalah gangguan perhatian, dan kegelisahan yang melanda anak. Mendadak Anda bertanya pada diri sendiri, mungkinkah saya juga bisa mengidap ADHD? Jawabannya mungkin saja.

Seperti dikutip dari webmd.com, ADHD bisa saja menghinggapi satu keluarga, bahkan para ahli berpendapat, setiap anak yang mengidap ADHD, memiliki 30–40 persen peluang salah satu dari orangtuanya juga turut mengidap penyakit ini. Namun lazimnya, orangtua tidak pernah menyadari hal ini sampai anak mereka divonis menderita masalah tersebut.

Asisten Psikiatri Profesor dari John Hopkins University School of Medicine David W Goodman menyatakan, hal tersebut adalah sebuah pola yang umum. ”Saya bisa saja merawat pasien umur 16 tahun dengan ADHD, berikutnya giliran bapaknya yang berumur 40 tahun didiagnosa juga mengalami penyakit yang sama. Pun demikian dengan paman anak tersebut. ADHD menjadi semacam pohon keluarga,” ungkapnya.

ADHD dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai gangguan pemusatan perhatian disertai hiperaktif. Sederhananya dijelaskan bahwa ADHD adalah suatu kondisi di mana seseorang memiliki masalah perhatian dan pemusatan terhadap kegiatan. Berawal dari masa kanak-kanak dan dapat berlanjut ke masa dewasa.

Dikarenakan ADHD yang menghinggapi orang dewasa mempunyai dampak negatif pada kehidupan yang bersangkutan, sangatlah penting untuk segera mendapatkan pertolongan. Apalagi bila bukan Anda satu-satunya anggota keluarga dengan penyakit ini.

Pada prinsipnya, gejala ADHD biasa muncul sebelum anak menginjak usia 7 tahun. Dan menurut Lenard Adler MD selaku profesor psikiatri, penyakit ini tidak lantas berhenti di usia tersebut. ”Dua dari tiga anak dengan ADHD, akan berlanjut memiliki penyakit ini hingga mencapai usia dewasa,” papar pria yang juga menjabat sebagai Direktur Program ADHD Dewasa di Sekolah Kedokteran New York University ini.

Orang dewasa yang menderita gangguan penyakit ini, kebanyakan tidak pernah didiagnosa menderita gangguan tersebut semasa kecilnya. Gejala yang dialami, agaknya tidak mendapatkan perhatian. Kasus ini banyak terjadi utamanya pada wanita. Umumnya guru dan orangtua, lebih banyak memfokuskan diri kepada anak-anak lelaki yang suka membuat keributan dan kenakalan, dibanding anak perempuan yang selalu gagal memusatkan perhatian.

Ada pula orang dewasa lainnya yang tidak didiagnosa menderita penyakit ini, namun sebenarnya mereka mengidap ADHD sewaktu masih kecil. Dokter anak kala itu yang merawat anak tersebut, bisa saja menyatakan, gangguan psikiatrik itu akan hilang seiring dengan bertambahnya usia sang anak. ”Mungkin saja demikian, anak ADHD yang terlibat masalah misalnya sering membuat keributan di kelas, bisa saja menjadi lebih kalem ketika sudah duduk di bangku kuliah.Tetapi gejalanya yang justru berubah,” kata David yang juga menjabat sebagai Direktur Pusat ADHD Dewasa di Maryland, Baltimore.

Hal ini, lanjut David, adalah salah satu alasan mengapa gejala ADHD pada orang dewasa sering tidak terdeteksi. Pada orang dewasa, gangguan hiperaktif tidak lagi dialaminya, atau menjadi berkurang. ”Anda tidak akan melihat pengidap ADHD dewasa, berdiri di atas kursinya, sebab kegiatan hiperaktif tersebut sudah hilang ketika usia dewasa,” terang Asisten Psikiatri Profesor di Universitas Pennsylvania J Russell Ramsay.

Konsekuensi dari gangguan penurunan perhatian pada orang dewasa ini, sangatlah banyak. ”ADHD dapat memengaruhi segala aspek kehidupan Anda, mulai dari hubungan dengan pasangan, hingga peran Anda sebagai orangtua, dan masalah pekerjaan, dampaknya akan amat serius,” ujar Russel.

Russel pun mengingatkan bahwasanya ADHD bukanlah sebuah gangguan yang ramah bagi penderitanya. Dia menunjukkan banyak kasus sebagai dampak dari penyakit tersebut. Misalnya saja, perceraian, pengangguran, masalah kekerasan, serta kecelakaan berkendara.

”Ini juga bisa menyangkut pada masalah keuangan,” kata James McCraken MD. Ditambahkannya, bila dibandingkan dengan orang yang memiliki pekerjaan sama, orang ADHD memiliki keuangan yang lebih sedikit. James menyangka, banyak di antara orang ADHD dewasa yang tidak pernah mendapat diagnosa. Mereka bahkan tidak pernah menyadari kemungkinan penyakit tersebut dideritanya, jadi mereka pun tidak banyak bertanya. Di sisi lain, dokter juga tidak banyak memberi bantuan.

”Banyak di antara ahli kedokteran dan kalangan profesional, termasuk internis, psikiater, dan psikolog, yang hampir tidak mempunyai pengalaman dalam merawat orang ADHD dewasa,” kata James lagi. Sehingga hasil mayoritas, hanya tiga hingga empat orang ADHD dewasa yang mendapat perawatan tepat.
Sumber : http://lifestyle.okezone.com/read/2010/04/29/196/327541/196/waspadai-adhd-pada-orang-dewasa